Saat ini dengan derasnya arus informasi dan teknologi di Indonesia, masyarakat Madura terutama nelayan tradisional sudah memiliki kesadaran untuk memanfaatkan teknologi dibidang perikanan, mereka menggunakan GPS dan Fish Finder untuk membantu mereka di lautan ketika bekerja mencari ikan.
Dengan alat ini para nelayan dengan mudah memberikan tanda pada tempat-tempat atau titik sarang ikan ditengah lautan, dengan begitu mereka menghemat lebih banyak bahan bakar dan waktu mereka dilautan bisa dipercepat.
Mereka mengakui dengan adanya alat ini biaya operasional bahan bakar bisa ditekan apalagi ditengah masa sulit / krisis seperti ini. Keuntungan mereka juga bisa berlipat-lipat dan bertambah karena mereka langsung tepat pada sarang ikan yang sudah mereka tandai, dan biasanya ratusan dan ribuan ikan berkumpul di titik tersebut.
Kabar ini cukup melegakan kita semua karena minimal masyarakat nelayan yang rata-rata menengah kebawah mulai sadar dan mulai melek teknologi walaupun cuma sebagai user saja. Karena sadar atau tidak hal ini akan merubah pola pikir mereka yang selama ini kolot dan sulit menerima teknologi.
Maklum rata-rata kebanyakan nelayan dipulau madura adalah masyarakat yang fanatik terhadap kiai. Sehingga terkesan mereka bodoh dan terbelakang karena mereka terbiasa dengan dogma dan mitos. Padahal masyarakat nelayan sebenarnya masyarakat yang paling tercukupi gizi dan vitamin otaknya seperti AA dan DHA karena sumber protein yang sangat tinggi ada pada ikan yang mereka makan setiap hari jadi sebenarnya meraka itu pinter-pinter cuma karena sedikitnya sumber ilmu dan transfer pengetahuan kepada mereka jadi terkesan mereka kolot dan fanatik.
Sungguh menjadi suatu keberuntungan bagi masyarakat pesisisr madura sebagai dasar dan bekal menghadapi perubahan yang sangat cepat pasca SURAMADU nanti yang akan mengubah seluruh struktur dan pola pikir masyarakat Madura pada umumnya. Artinya para nelayan tadi sudah mampu beradaptasi dengan teknologi yang baru dan memanfaatkan untuk kepetingan mereka, walaupun teknologi juga bisa berdampak negatif bagi kita.
Bagi pemerintah sangatlah penting untuk memperhatikan hal ini , karena masyarakat madura sebenarnya perlu wadah untuk mengakselerasikan perubahan pasca Suramadu nanti. Sekarang apa yang sudah dilakukan pemerintah? Saya lihat pemerintah tidak peka terhadap hal ini!
Saran Saya pada pemerintah setempat, mengacu pada kasus nelayan tadi , adalah melembagakan percepatan tadi dalam bentuk kelompok-2 nelayan ataupun Lembaga Sekolah, mulai dari tambahan kurikulum muatan lokal atau bahkan membuat sekolah SMK perikanan disetiap kota atau kecamatan basis-basis nelayan tadi, inilah kewajiban pemerintah ! Karena pasti masyarakat yang jadi korban jika masyarakat Madura tidak siap terhadap perubahan tadi ! atau bahkan tersisih oleh pendatang dari luar Madura !
Apakah juga misi ini yang diusung oleh para caleg di dapil Madura ! apa mereka cuma melihat Madura sebagai lahan empuk menancapkan kuku dan kekuasaan mereka di Pulau Madura ! Jangan sampai Itu Terjadi !
Sudah saatnya juga pondok pesantren di seluruh Madura bergerak untuk perubahan ini karena sangat naif jika pondok hanya menjadi ajang caleg caleg kiai atau ajang kiai mendapatkan uang dari BOS atau bantuan Pemda ! atau cuma mencetak kiai-kiai yang nantinya jadi caleg atau Bupati Koruptor ! No Way !
Pondok harus menfasilitasi dan menjadi bemper jika perubahan itu benar-benar terjadi ! sudah saatnya di setiap pondok pesantren di seluruh pulau madura mendidikan SMK-SMK kejuruan yang berbasis sumber daya masyarakat dan sumber daya alam sekitar pondok, seperti mendirikan SMK Perikanan, SMK Pertanian, SMK Komputer, SMK Kimia, SMK Perikanan Darat, SMK Pertambangan selain SMK – SMK yang selama ini ada….karena keberadaan SMK – SMK tersebut akan membantu bahkan mencetak masyarakat madura yang terdidik dan terampil serta siap pakai untuk menghadapi tantangan zaman pasca SURAMADU , walau agak terlambat tapi tidak apa ! yang penting sudah ada salah satu cara dan solusi untuk mengatasi hal itu !
Sekarang Tengoklah apa yang sudah di persiapkan pemerintah ! Eksploitasi besar-besaran Pulau Madura dari SDM dan SDA nya sudah dipersiapkan Bangkalan jadi kota Industri dan Sampang, Pamekasan Perkantoran, Sumenep Wisata dan Perumahan, Cuma itu Saja ! tanpa menyiapkan perkembangan ilmu dan pengetahuan masyarakatnya ! ini dosa besar pemerintah pada masyarakat Madura ! Tengoklah juga masyarakat marginal di Pulau Madura yang terdesak pastilah keluar dan menjadi penonton di Tanah Sendiri, belum ada Suramadu saja mereka sudah Hijrah ke Negeri Jiran ! Sekarang kondisi masyrakat madura yang tidak beda jauh dari kondisi kemarin-kemarin pastilah akan lebih banyak orang madura yang tergencet dan pindah ke negeri jiran Malaysia atau negeri Arab . kalau toh mereka bertahan pastilah mereka akan menjadi kuli di tanah sendiri ! Apa bedanya pemerintah sekarang dengan Jepang Atau Belanda ! Sungguh Pemilu 2009 akan menjadi per taruhan siapa yang benar-benar siap terhadap perubahan akan terpilih ! tapi jika tidak ada yang siap pastilah Tuhan tidak akan tinggal diam terhadap hal ini ! Jangan cuma memikirkan perutnya sendiri-sendiri Bung!
Tapi bagi masyarakat juga harus mencontoh nelayan-nelayan tadi tidak menunggu pemerintah tapi bergerak sendiri dan menyelamatkan Generasi mereka dari kehancuran, pelan-pelanlah lewat lembaga pondok mendirikan SMK-SMK tadi ! biarlah dosanya ditanggung pemerintah bukan kita. Cobaklah bagi masyarakat yang sudah punya anak sekolah berusaha membuka diri pada anak-anak mereka untuk belajar internet dengan anak-anak mereka karena alhamduilillah sudah mulai marak warnet di pelosok-pelosok dan kecamatan terutama pondok-pondok ! karena dari situlah Akselerasi teknologi akan terjadi ! dari segala bidang kehidupan bisa cari di internet !
Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali !
Go Madura !
Oleh : Noviyanto ST
Berikut ini video cara memakai Fish Finder bagi yang pingin tahu !





Bagus sekali artikel2 nya, membuka kesadaran dan wacana berfikir saya sebagai ank orang madura..:D
masih teringat waktu kecil dulu , ikut mencari ikan di pinggir laut bangkalan ..
orang tua kami mencari ikan dilaut hanya melihat hitungan bulan… jika mendekati bulan purnama baru mereka kelaut, dengan kepercayaan pada tanggal2 itulah ikan “banyak kepinggir” katanya…
nah sekarang kalau saya lihat cuaca sudah tidak stabil dan tidak teratur mungkin sedikit banyak akibat global warming…
sangat akn tertinggal sekali jika masih menggunakan cara2 lama ini..
harapan saya kedepan, semoga ada pejabat yang membaca artikel ini dan tergerak hatinya untuk membangun masyarakat nelayan madura..
salam semangat untuk pemuda2 madura..:D !!!
Oleh: titi on Juni 1, 2009
at 2:37 am