Oleh: kokoyayan | Agustus 9, 2009

Executive Summary

PENGEMBANGAN PULAU MADURA DAN SURABAYA

PASCA PEMBANGUNAN JEMBATAN SURAMADU

Hasil Diskusi  Forum Eksekutif ITS
Bersama IKA ITS Jakarta Raya
Hotel Mulia, Jakarta 6 Juni 2009

Pendahuluan

Sebagai wujud kepedulian yang tinggi terhadap pengembangan Pulau Madura dan Surabaya pasca
pembangunan Jembatan Suramadu, maka 60 Eksekutif ITS yang tergabung dalam Forum Eksekutif ITS
dan IKA ITS Jakarta Raya, yang terdiri atas berbagai disiplin ilmu dan berasal dari berbagai perusahaan,
telah melaksanakan sidangnya khusus membahas topik dimaksud.

Keynote Speaker adalah Ir. Muchayat, Deputi Kementrian BUMN dan Rektor ITS Ir. Priyo Suprobo. Nara
Sumber adalah Ir, Kresnayana Yahya, Soecipto, Wakil Ketua Umum Dewan Pengembangan Suramadu, Ir.
Dody, dan Bambang, Kepala Bapeda Pamekasan. Hadir pula Ir. Muhammad Najib, anggota Komisi VII
DPR RI. Ir. Agus Widjanarko, Sekjen Departemen PU, dan Ketua Forum Eksekutif ITS, Ir. Rukmi
Hadihartini.

Hasil sidang adalah Executive Summary ini, dan disampaikan kepada pihak‐pihak yang diharapkan bisa
mewujudkannya. Serta Task‐Force yang akan terus menindaklanjuti pelaksanaannya.

Hasil Sidang

Karena sidang dilakukan oleh para CEO, maka cara yang digunakanpun adalah lebih pada sudut pandang
bisnis, artinya apa saja yang bisa dilakukan disana dan bagaimana mencapainya. Berikut ini adalah hasil
sidang, dimana sebagian diantaranya akan ditindaklanjuti menjadi tema aksi berikutnya.

1. Kultur warga Madura sebenarnya tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Mereka itu
santun bila didekati dengan cara‐cara yang santun pula. Mereka terbuka dengan perubahan.
Silahkan membangun di Madura dengan menghindari membangun bisnis‐bisnis bernuansa
negatif.
Untuk itu, masyarakat Madura perlu mengkampanyekan secara besar‐besaran keterbukaan ini,
dalam bentuk kampanye positif dengan topik‐topik positif, misalnya, “Senyum Madura”

2. Ada keinginan kuat agar sedapat‐mungkin, masyarakat Madura pemilik tanah ikut dilibatkan
dalam bisnis yang akan dikembangkan di Madura, sebagai bagian dari kepemilikan saham.
Sudah barang tentu hal ini hanya bisa dilaksanakan pada bisnis‐bisnis yang memungkinkan
untuk itu. Untuk pengembang Real Estate kecil menengah, keikutsertaan pemilik tanah mungkin
sulit dilakukan.
Keikutsertaan pemilik tanah sebagai bagian dari pemilik saham dapat dilakukan untuk bisnis‐
bisnis seperti kepariwisataan, dan bisnis‐bisnis besar lainnya.

3. Pengembangan dua sisi Pulau Madura dan Surabaya diyakini akan memberikan kontribusi besar
dalam hal membangkitkan kembali ekonomi Jawa Timur yang terpuruk hingga dibawah angka
rata‐rata pertumbuhan nasional akibat musibah Lumpur Lapindo. Untuk itu berbagai langkah
strategis perlu dilakukan.

4. Me‐landed‐kan sebagian gas ke Pulau Madura mutlak diperlukan. Berlimpahnya gas disekitar
Pulau Madura, menjadikan penting sekali dijajagi kemungkinan menjadikan Madura sebagai
lumbung energi listrik, dan mengekpor energi listrik ke jaringan Jawa‐Bali melalui Suramadu.
Jadi, pendekatan ini akan menghilangkan keraguan investor energi listrik, karena sejak awal,
investor energi listrik sudah bisa menjual seluruh energi listrik yang dihasilkannya dengan jalan
dialirkan ke sistim jaringan Jawa‐Bali. Dilain pihak, setiap industri yang akan dibangun di Madura
akan mendapatkan jaminan ketersediaan energi listrik yang melimpah disana.
Dengan pendekatan ini, pembangunan Pembangkit Listrik dapat segera dimulai, tanpa harus
menunggu market industri di Madura.
Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap adalah paling tepat dibagun di Madura. Tahap awal
perlu dibangun dengan kapasitas 100 MW. Selanjutnya, tergantung pada ketersediaan gas
disekitar Madura.

5. Disamping tersediaannya energi listrik yang cukup, maka 2 akses jalan tol tersebut dibawah ini
penting diwujudkan, guna terjaminnya relokasi industri yang terpaksa tutup/terganggu akibat
Lumpur Lapindo:
• Akses jalan tol yang menghubungkan jembatan Suramadu dengan jalan tol Surabaya –
Gempol melalui arah barat.
• Serta akses jalan tol arah timur yang menghubungkan Suramadu dengan Waru.

6. Menjajagi kemungkinan pembangunan pipa bawah laut untuk transmisi air bersih dari Umbulan
ke Madura, untuk kebutuhan air minum.

7. Forum Eksekutif ITS menyambut baik rencana Pemerintah untuk mencadangkan lahan seluas
600 hektare di Surabaya dan 600 hektare di Bangkalan, Madura untuk pengembangan Kawasan
Industri pasca pembangunan Jembatan Suramadu.
Pemanfaatan lahan kawasan industri ini akan lebih cepat direspons investor dengan tersedianya
energi listrik (Point no 4), Tambahan akses Jalan Tol (Point no 5), dan Ketersediaan air bersih
(Point no 6).

8. Dengan adanya musibah Lumpur Lapindo, maka arah pergerakan pariwisata domestik ke
Madura menjadi hal yang sangat menarik sekali.
Akan terjadi perkembangan besar industri pariwisata di Madura, dan ini akan memberikan
dampak positif luar biasa bagi pembangunan ekonomi masyarakat Madura. Oleh karena itu, hal
nomor 1 diatas menjadi sangat penting dilakukan.
Forum berkeinginan mendapatkan dan mengembangkan satu atau dua wisata pantai terindah
untuk dikembangkan menjadi wisata andalan kelas dunia.

9. ITS akan menjadi bagian penting dari sisi akademis “Ekspedisi Kapal Majapahit”. Yang
merupakan kerjasama antara berbagai pihak di Indonesia dengan Japan Majapahit Association.
Visi daripada kegiatan ini adalah membangkitkan jiwa bahari Pemuda Indonesia.
Kapal Majapahit ini akan dibangun di Galangan Kapal Tradisional di Sampang, Madura.
Pembuatan Kapal Kayu di Sampang akan mendapatkan liputan terus‐menerus dari media local
dan asing. Tahun 2010 kapal akan dilayarkan ke Surabaya, selanjutnya ke Jakarta dan Okinawa,
Jepang.
Berbagai media lokal dan asing misalnya NHK dll akan meliput. Ini akan menjadi sarana promosi
pariwisata yang manarik bagi Madura.

10. Perlu dilakukan pelatihan‐pelatihan intensif terhadap UKM lokal (misal pengrajin batik,
pengusaha makanan, dll) untuk meningkatkan posisi mereka menjadi industri daerah yang
berskala nasional.

11. Diinginkan dibentuknya sebuah Investor Desk yang beranggotakan Kadin, Dewan
Pengembangan Madura, LPPM ITS dan Forum Eksekutif ITS dan Badan‐badan lin yang terkait.

12. Forum Eksekutif ITS telah membentuk Task Force sebagai kelanjutan Sidang ini dengan Ketua Ir.
Pudjojoko dan Ir. Abdul Aziez Bahalwan sebagai Wakil Ketua. Anggota‐anggota Task orce adalah
para Eksekutif terkait.
Task‐Force juga menjajagi dilaksanakannya “Forum Investasi Madura” yang dilaksanakan di
Jakarta, dan melibatkan 4 Kabupaten di Madura.

Penutup

Forum Eksekutif ITS akan menindaklanjuti hasil sidang ini melalui Task Force yang telah terbentuk.

Oleh: kokoyayan | Juni 10, 2009

Alhamdulillah SURAMADU jadi juga

Suramadu Bridge

Suramadu Bridge

In The Night

In The Night

Semoga dengan jadinya Suramadu bermanfaat untuk pembangunan di Pulau Madura, tidak hanya menjadi komuditas politik semata, dan membawa kemajuan serta rahmat untuk orang Madura dan Jawa Timur, Indonesia secara keseluruhan…..Amin…….

Setelah Jembatan Suramadu selesai sudah saatnya bersiap-bersiap menjaga dan menyongsong era pembaharuan di Pulau Madura !

Go Madura ! Go ! Go ! Go !

Oleh: kokoyayan | April 11, 2009

Mereka Yang Tersisih Merantau

Bagi sebagian besar orang madura tanah tandus dan  sedikit air di Pulau Madura menyisakan banyak karakter dan banyak mata pencaharian yang sangat tergambar dari struktur sosial masyarakat Madura.

Faktor pendidikan adalah hal yang paling utama disini. Sebagian masyarakat Madura yang punya pendidikan rendah akan tersisih dan terpinggirkan dari komunitasnya sendiri. Kebanyakan dari mereka akan merantau ke tanah seberang hal ini sudah dipratekkan sejak dulu mulai zaman kolonial Belanda.

Pada zaman kolonial dulu penduduk Madura biasa merantau Ke Jawa yang didukung oleh Belanda dengan transmigrasi ke daerah tapal kuda, setelah merdeka mereka banyak yang ber alih menjadi TKI dan TKW di Negeri Jiran dan Arab Saudi.

Sistem kompetisi dan degradasi dalam struktur sosial masyarakat madura sangatlah keras dan ketat. Karena didukung oleh sedikitnya lahan pertanian, sempitnya pasar, dan kurang suburnya tanah garapan.

Pada zaman kolonial dulu penduduk Madura biasa merantau Ke Jawa yang didukung oleh Belanda dengan transmigrasi ke daerah tapal kuda, setelah merdeka mereka banyak yang ber alih menjadi TKI dan TKW di Negeri Jiran dan Arab Saudi.

Ada tiga kelompok perantau dari Madura

  1. Intelektual , kelompok ini bukan tersisih tapi mereka belajar sebagai kaum terdidik cerdik pandai sebagian mereka menetap di Jawa sebagian pulang untuk membangun Madura.
  2. Kaum Menengah, Mereka merantau untuk berdagang mencari pasar baru di Pulau Jawa atau didaerah lainnya di seluruh Indonesia.
  3. Kaum Tersisih, mereka merantau karena terpaksa dan mereka banyak yang terjebak menjadi pekerja kasar, preman, TKI dan TKW dan segala macam pekerjaan yang kasar tanpa membutuhkan skill tertentu.

Memang itulah dinamika yang terjadi di Pulau Madura sungguh keras kehidupan disini, selama ini yang mengawal sistem kompetisi itu adalah kiai dan budaya santri yang melekat pada sebagian besar rakyat Madura.  Namun seiring dengan berkembangnya zaman para kiai sudah mulai ditinggalkan karena banyak kiai yang cuma mikirin politik dan kekuasaaan semata.

Pertanyaannya adalah -  Pasca Suramadu bagaimanakah persaingannya ? – Makin Banyak atau makin sedikit orang Madura yang tersisih? Apa yang akan terjadi di Madura dengan hilangnya kepercayaan pada kiai? – itulah yang harus dipersiapkan jawabannya nanti oleh pemerintah dan caleg yang terpilih pada pemilu 2009

Sudah siapkah kita?

Saat ini dengan derasnya arus informasi dan teknologi di Indonesia, masyarakat Madura terutama nelayan tradisional sudah memiliki kesadaran untuk memanfaatkan teknologi dibidang perikanan, mereka menggunakan  GPS dan Fish Finder untuk membantu mereka di lautan ketika bekerja mencari ikan.

Dengan alat ini para nelayan dengan mudah memberikan tanda pada tempat-tempat atau titik sarang ikan ditengah lautan, dengan begitu mereka menghemat lebih banyak bahan bakar dan waktu mereka dilautan bisa dipercepat.

Mereka mengakui dengan adanya alat ini biaya operasional bahan bakar bisa ditekan apalagi ditengah masa sulit / krisis seperti ini. Keuntungan mereka juga bisa berlipat-lipat dan bertambah karena mereka langsung tepat pada sarang ikan yang sudah mereka tandai, dan biasanya ratusan dan ribuan ikan berkumpul di titik tersebut.

Kabar ini cukup melegakan kita semua karena minimal masyarakat nelayan yang rata-rata menengah kebawah mulai sadar dan mulai melek teknologi walaupun cuma sebagai user saja. Karena sadar atau tidak hal ini akan merubah pola pikir mereka yang selama ini kolot dan sulit menerima teknologi.

Maklum rata-rata kebanyakan nelayan dipulau madura adalah masyarakat yang fanatik terhadap kiai. Sehingga terkesan mereka bodoh dan terbelakang karena mereka terbiasa dengan dogma dan mitos. Padahal masyarakat nelayan sebenarnya masyarakat yang paling tercukupi gizi dan vitamin otaknya seperti AA dan DHA karena sumber protein yang sangat tinggi ada pada ikan yang mereka makan setiap hari jadi sebenarnya meraka itu pinter-pinter cuma karena sedikitnya sumber ilmu dan transfer pengetahuan kepada mereka jadi terkesan mereka kolot dan fanatik.

Sungguh menjadi suatu keberuntungan bagi masyarakat pesisisr madura sebagai dasar dan bekal menghadapi perubahan yang sangat cepat pasca SURAMADU nanti yang akan mengubah seluruh struktur dan pola pikir masyarakat Madura pada umumnya.  Artinya para nelayan tadi sudah mampu beradaptasi dengan teknologi yang baru dan memanfaatkan untuk kepetingan mereka, walaupun teknologi juga bisa berdampak negatif bagi kita.

Bagi pemerintah sangatlah penting untuk memperhatikan hal ini , karena masyarakat madura sebenarnya perlu wadah untuk mengakselerasikan perubahan pasca Suramadu nanti. Sekarang apa yang sudah dilakukan pemerintah? Saya lihat pemerintah tidak peka terhadap hal ini!

Saran Saya pada pemerintah setempat, mengacu pada kasus nelayan tadi , adalah melembagakan percepatan tadi dalam bentuk kelompok-2 nelayan ataupun Lembaga Sekolah, mulai dari tambahan kurikulum muatan lokal atau bahkan membuat sekolah SMK perikanan disetiap kota atau kecamatan basis-basis nelayan tadi, inilah kewajiban pemerintah ! Karena pasti masyarakat yang jadi korban jika masyarakat Madura tidak siap terhadap perubahan tadi ! atau bahkan tersisih oleh pendatang dari luar Madura !

Apakah juga misi ini yang diusung oleh para caleg di dapil Madura ! apa mereka cuma melihat Madura sebagai lahan empuk menancapkan kuku dan kekuasaan mereka di Pulau Madura ! Jangan sampai Itu Terjadi !

Sudah saatnya juga pondok pesantren di seluruh Madura bergerak untuk perubahan ini karena sangat naif jika pondok hanya menjadi ajang caleg caleg kiai atau ajang kiai mendapatkan uang dari BOS atau bantuan Pemda ! atau cuma mencetak kiai-kiai yang nantinya jadi caleg atau Bupati Koruptor ! No Way !

Pondok harus menfasilitasi dan menjadi bemper jika perubahan itu benar-benar terjadi ! sudah saatnya di setiap pondok pesantren di seluruh pulau madura mendidikan SMK-SMK kejuruan yang berbasis sumber daya masyarakat dan sumber daya alam sekitar pondok, seperti mendirikan SMK Perikanan, SMK Pertanian, SMK Komputer, SMK Kimia, SMK Perikanan Darat, SMK Pertambangan selain SMK – SMK yang selama ini ada….karena keberadaan SMK – SMK tersebut akan membantu bahkan mencetak masyarakat madura yang terdidik dan terampil serta siap pakai untuk menghadapi tantangan zaman pasca SURAMADU , walau agak terlambat tapi tidak apa ! yang penting sudah ada salah satu cara dan solusi untuk mengatasi hal itu !

Sekarang Tengoklah apa yang sudah di persiapkan pemerintah ! Eksploitasi besar-besaran Pulau Madura dari SDM dan SDA nya sudah dipersiapkan Bangkalan jadi kota Industri dan Sampang, Pamekasan Perkantoran, Sumenep Wisata dan Perumahan, Cuma itu Saja ! tanpa menyiapkan perkembangan ilmu dan pengetahuan masyarakatnya ! ini dosa besar pemerintah pada masyarakat Madura ! Tengoklah juga masyarakat marginal di Pulau Madura yang terdesak pastilah keluar dan menjadi penonton di Tanah Sendiri, belum ada Suramadu saja mereka sudah Hijrah ke Negeri Jiran ! Sekarang kondisi masyrakat madura yang tidak beda jauh dari kondisi kemarin-kemarin pastilah akan lebih banyak orang madura yang tergencet dan pindah ke negeri jiran Malaysia atau negeri Arab . kalau toh mereka bertahan pastilah mereka akan menjadi kuli di tanah sendiri ! Apa bedanya pemerintah sekarang dengan Jepang Atau Belanda ! Sungguh Pemilu 2009 akan menjadi per taruhan siapa yang benar-benar siap terhadap perubahan akan terpilih ! tapi jika tidak ada yang siap pastilah Tuhan tidak akan tinggal diam terhadap hal ini ! Jangan cuma memikirkan perutnya sendiri-sendiri Bung!

Tapi bagi masyarakat juga harus mencontoh nelayan-nelayan tadi tidak menunggu pemerintah tapi bergerak sendiri dan menyelamatkan Generasi mereka dari kehancuran, pelan-pelanlah lewat lembaga pondok mendirikan SMK-SMK tadi ! biarlah dosanya ditanggung pemerintah bukan kita. Cobaklah bagi masyarakat yang sudah punya anak sekolah berusaha membuka diri pada anak-anak mereka untuk belajar internet dengan anak-anak mereka karena alhamduilillah sudah mulai marak warnet di pelosok-pelosok dan kecamatan terutama pondok-pondok ! karena dari situlah Akselerasi teknologi akan terjadi ! dari segala bidang kehidupan bisa cari di internet !

Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali !

Go Madura !

Oleh : Noviyanto ST

Berikut ini video cara memakai Fish Finder bagi yang pingin tahu !

Oleh: kokoyayan | Desember 13, 2008

SELAMAT DATANG DI PULAU MADURA!

MADURA DALAM PERCEPATAN

Percepatan Suramadu

Percepatan di Pulau Madura

Sebentar lagi akan terjadi perubahan besar di pulau Madura, segala sesuatunya pasti akan berubah ! Perubahan Besar ! Besar Sekali.  Ya ! tepat semua itu karena Jembatan Suramadu.

Tidak bisa dipungkiri dengan selesainya jembatan suramadu (pada bulan Juli 2009)  sebagai jembatan terpanjang dan terbesar di Indonesia akan mengubah segala sisi kehidupan orang madura mulai dari politik, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Madura saat ini. Bayangkan akan terjadi arus penduduk pendatang dari segala penjuru negeri akan masuk ke pulau Madura. Yang membawa budaya luar dan karakter yang berbeda dengan masyarakat Madura pada mumnya terkenal polos, jujur, santun, dan keras, ulet.

Akan terjadi benturan atau momentum yang sangat besar dari itu semua, akan tercipta resultant perubahan baru di Pulau Madura dari yang selama ini terlihat di pulau Madura. Struktur masyarakat baru pastilah terbentuk dan akan terpecah menjadi 3 (tiga ) kelompok besar, yaitu : 1. Pendatang elit ekslusive 2. Kelompok Pembauran/Menengah 3. Ortodok Madura pinggiran.

Kelompok pendatang elit ini terdiri dari golongan pendatang kaya yang kepentingannya hanya mengeruk kekayaan di Pulau Madura, mereka tidak mau membaur dengan masyarakat Madura karena mereka memandang orang-orang madura yang seperti apa yang mereka kenal di kota-kota besar yang jadi raja preman. Mereka sangat protektiv bahkan ekslusive sekali sehingga tidak mau bersentuhan sama sekali dengan masyarakat madura.

Kelompok kedua terdiri dari kelas pekerja dan pengusaha kecil yang merantau di pulau madura dan butuh komunitas madura sebagai ajang sosialisasi dan market, kelompok ini akan menjadi kelompok penyeimbang seperti yang terjadi dan mendominasi di Kota Surabaya, karakter Pulau Madura yang baru nanti tidak akan berbeda jauh dengan karakter Kota  Surabaya,  karena karakter inilah yang paling banyak, struktur masyarakat surabaya pun merupakan campuran dari keempat besar etnis di Indonesia Jawa, Madura, Cina, Arab.

Kelompok ketiga adalah golongan tersisih dan terpinggirkan yang tidak siap terhadap perubahan,  terdiri dari masyarakat ekonomi lemah dan tidak mampu, berpendidikan rendah, kolot dan cenderung fanatis terhadap sesuatu biasanya dari sini akan muncul golongan terbuang atau sampah masyarakat itu seperti Preman, pemulung, tunawisma, WTS dll.

Nah ini yang terjadi di Kota Surabaya di daerah pinggiran utara kota Surabaya dimana mereka bekerja hanya mengandalkan otot bukan otak dan cenderung keras. Kelompok inilah yang harus diperhatikan oleh Badan Pengawas Suramadu yang sampai saat ini masih belum terbentuk, sadar atau tidak Gubernur Jawa Timur harus bisa mengatasi hal ini karena bila tidak diantisipasi ketidak stabilan dan kekacauan sosial akan terjadi.

Pihak yang berwenang harus mengatur dan menegaskan agar kelompok pertama dan ketiga harus bisa diminimalisir sekecil mungkin dan memaksimalkan terjadinya kelompok ke 2 sebagai penyeimbang. Sehingga efek perubahan bisa diminimalisir. Sudahkan hal ini dipikirkan ???

nah agar terjadi kelompok kedua pembangunan yang ada di Pulau Madura nanti janganlah bersifat terpisah dan terpecah pecah berdasarkan proyeksi tujuan jangka pendek semata atau hanya melihat dari potensi alamnya saja. Yang jelas efek yang paling berat akan dirasakan oleh masyarakat Bangkalan dan Sampang karena 2 kabupaten tersebut berdekatan dengan Suramadu, apa yang akan terjadi di Sampang dan Bangkalan bila masing2 daerah tersebut tidak siap!

Saat ini yang di kebut Pak Fuad hanya pembangunan fisik semata ! tapi apakah dia siap dengan pembangunan mental masyarakatnya ! yang kita tahu masyarakat Bangkalan rata-rata berpendidikan rendah dan kebanyakan fanatik terhadap kiai??? apakah nanti Pak Fuad akan menciptakan masyarakat hipokrit yang mendem jero, didalam batinnya berkata Tidak ! Tapi kenyataanya orang2 bangkalan akan tergusur bahkan tergencet dari Bangkalan sendiri !!!Hal ini yang harus diperhatikan oleh seluruh intelektual di Kota Bangkalan, Contoh kecil ketika Pilgub kemarin bukankah masyarakat Bangkalan dan Sampang paling tidak dewasa sebagai peserta pemilu dengan banyak kecurangan yang terjadi.

Kondisi di sampang Pun hampir sama struktur masyarakatnya bahkan agak terbelakang dari Bangkalan karena rendahnya tingkat pendidikan, hal ini harus diakui oleh Pak Cahya karena kalau dibiarkan orang Sampang akan tersisih dan terpinggirkan !

Posisi Pamekasan agak menguntungkan begitu juga Sumenep karena efeknya agak bisa diminimalisir masyarakat Pamekasan lebih terdidik dan maju sehingga cukup terbuka untuk perubahan kelihatannya nanti Pamekasan akan menjadi pusat kegiatan masyarakat pasca suramadu atau centernya. Sumenep akan bertindak sebagai supportnya disini, karena masyarakat Sumenep tidak berbeda jauh dari Pamekasan, proses akulturasi budaya di Sumenep juga berlangsung sejak lama mulai jaman Kerajaan Majapahit, Kerajaan Mataram, Belanda, Jepang, NKRI. Bahkan sampai sekarang kalau dilihat dari cagar budaya 2 kota yang terahir ini yang mendominasi. nah ini yang menjadi acuan kedepan bagi Badan Pengawas Suramadu dan Gubernur Jawa Timur untuk membangun Pulau Madura. Jangan sampai menjadi bumerang bagi Rakyat Madura dan Indonesia pada umumnya ! Bersambung…….

Oleh

Noviyanto ST

(Alumni Teknik Kimia ITS- Madura Asli)

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.