PENGEMBANGAN PULAU MADURA DAN SURABAYA
PASCA PEMBANGUNAN JEMBATAN SURAMADU
Hasil Diskusi Forum Eksekutif ITS
Bersama IKA ITS Jakarta Raya
Hotel Mulia, Jakarta 6 Juni 2009
Pendahuluan
Sebagai wujud kepedulian yang tinggi terhadap pengembangan Pulau Madura dan Surabaya pasca
pembangunan Jembatan Suramadu, maka 60 Eksekutif ITS yang tergabung dalam Forum Eksekutif ITS
dan IKA ITS Jakarta Raya, yang terdiri atas berbagai disiplin ilmu dan berasal dari berbagai perusahaan,
telah melaksanakan sidangnya khusus membahas topik dimaksud.
Keynote Speaker adalah Ir. Muchayat, Deputi Kementrian BUMN dan Rektor ITS Ir. Priyo Suprobo. Nara
Sumber adalah Ir, Kresnayana Yahya, Soecipto, Wakil Ketua Umum Dewan Pengembangan Suramadu, Ir.
Dody, dan Bambang, Kepala Bapeda Pamekasan. Hadir pula Ir. Muhammad Najib, anggota Komisi VII
DPR RI. Ir. Agus Widjanarko, Sekjen Departemen PU, dan Ketua Forum Eksekutif ITS, Ir. Rukmi
Hadihartini.
Hasil sidang adalah Executive Summary ini, dan disampaikan kepada pihak‐pihak yang diharapkan bisa
mewujudkannya. Serta Task‐Force yang akan terus menindaklanjuti pelaksanaannya.
Hasil Sidang
Karena sidang dilakukan oleh para CEO, maka cara yang digunakanpun adalah lebih pada sudut pandang
bisnis, artinya apa saja yang bisa dilakukan disana dan bagaimana mencapainya. Berikut ini adalah hasil
sidang, dimana sebagian diantaranya akan ditindaklanjuti menjadi tema aksi berikutnya.
1. Kultur warga Madura sebenarnya tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Mereka itu
santun bila didekati dengan cara‐cara yang santun pula. Mereka terbuka dengan perubahan.
Silahkan membangun di Madura dengan menghindari membangun bisnis‐bisnis bernuansa
negatif.
Untuk itu, masyarakat Madura perlu mengkampanyekan secara besar‐besaran keterbukaan ini,
dalam bentuk kampanye positif dengan topik‐topik positif, misalnya, “Senyum Madura”
2. Ada keinginan kuat agar sedapat‐mungkin, masyarakat Madura pemilik tanah ikut dilibatkan
dalam bisnis yang akan dikembangkan di Madura, sebagai bagian dari kepemilikan saham.
Sudah barang tentu hal ini hanya bisa dilaksanakan pada bisnis‐bisnis yang memungkinkan
untuk itu. Untuk pengembang Real Estate kecil menengah, keikutsertaan pemilik tanah mungkin
sulit dilakukan.
Keikutsertaan pemilik tanah sebagai bagian dari pemilik saham dapat dilakukan untuk bisnis‐
bisnis seperti kepariwisataan, dan bisnis‐bisnis besar lainnya.
3. Pengembangan dua sisi Pulau Madura dan Surabaya diyakini akan memberikan kontribusi besar
dalam hal membangkitkan kembali ekonomi Jawa Timur yang terpuruk hingga dibawah angka
rata‐rata pertumbuhan nasional akibat musibah Lumpur Lapindo. Untuk itu berbagai langkah
strategis perlu dilakukan.
4. Me‐landed‐kan sebagian gas ke Pulau Madura mutlak diperlukan. Berlimpahnya gas disekitar
Pulau Madura, menjadikan penting sekali dijajagi kemungkinan menjadikan Madura sebagai
lumbung energi listrik, dan mengekpor energi listrik ke jaringan Jawa‐Bali melalui Suramadu.
Jadi, pendekatan ini akan menghilangkan keraguan investor energi listrik, karena sejak awal,
investor energi listrik sudah bisa menjual seluruh energi listrik yang dihasilkannya dengan jalan
dialirkan ke sistim jaringan Jawa‐Bali. Dilain pihak, setiap industri yang akan dibangun di Madura
akan mendapatkan jaminan ketersediaan energi listrik yang melimpah disana.
Dengan pendekatan ini, pembangunan Pembangkit Listrik dapat segera dimulai, tanpa harus
menunggu market industri di Madura.
Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap adalah paling tepat dibagun di Madura. Tahap awal
perlu dibangun dengan kapasitas 100 MW. Selanjutnya, tergantung pada ketersediaan gas
disekitar Madura.
5. Disamping tersediaannya energi listrik yang cukup, maka 2 akses jalan tol tersebut dibawah ini
penting diwujudkan, guna terjaminnya relokasi industri yang terpaksa tutup/terganggu akibat
Lumpur Lapindo:
• Akses jalan tol yang menghubungkan jembatan Suramadu dengan jalan tol Surabaya –
Gempol melalui arah barat.
• Serta akses jalan tol arah timur yang menghubungkan Suramadu dengan Waru.
6. Menjajagi kemungkinan pembangunan pipa bawah laut untuk transmisi air bersih dari Umbulan
ke Madura, untuk kebutuhan air minum.
7. Forum Eksekutif ITS menyambut baik rencana Pemerintah untuk mencadangkan lahan seluas
600 hektare di Surabaya dan 600 hektare di Bangkalan, Madura untuk pengembangan Kawasan
Industri pasca pembangunan Jembatan Suramadu.
Pemanfaatan lahan kawasan industri ini akan lebih cepat direspons investor dengan tersedianya
energi listrik (Point no 4), Tambahan akses Jalan Tol (Point no 5), dan Ketersediaan air bersih
(Point no 6).
8. Dengan adanya musibah Lumpur Lapindo, maka arah pergerakan pariwisata domestik ke
Madura menjadi hal yang sangat menarik sekali.
Akan terjadi perkembangan besar industri pariwisata di Madura, dan ini akan memberikan
dampak positif luar biasa bagi pembangunan ekonomi masyarakat Madura. Oleh karena itu, hal
nomor 1 diatas menjadi sangat penting dilakukan.
Forum berkeinginan mendapatkan dan mengembangkan satu atau dua wisata pantai terindah
untuk dikembangkan menjadi wisata andalan kelas dunia.
9. ITS akan menjadi bagian penting dari sisi akademis “Ekspedisi Kapal Majapahit”. Yang
merupakan kerjasama antara berbagai pihak di Indonesia dengan Japan Majapahit Association.
Visi daripada kegiatan ini adalah membangkitkan jiwa bahari Pemuda Indonesia.
Kapal Majapahit ini akan dibangun di Galangan Kapal Tradisional di Sampang, Madura.
Pembuatan Kapal Kayu di Sampang akan mendapatkan liputan terus‐menerus dari media local
dan asing. Tahun 2010 kapal akan dilayarkan ke Surabaya, selanjutnya ke Jakarta dan Okinawa,
Jepang.
Berbagai media lokal dan asing misalnya NHK dll akan meliput. Ini akan menjadi sarana promosi
pariwisata yang manarik bagi Madura.
10. Perlu dilakukan pelatihan‐pelatihan intensif terhadap UKM lokal (misal pengrajin batik,
pengusaha makanan, dll) untuk meningkatkan posisi mereka menjadi industri daerah yang
berskala nasional.
11. Diinginkan dibentuknya sebuah Investor Desk yang beranggotakan Kadin, Dewan
Pengembangan Madura, LPPM ITS dan Forum Eksekutif ITS dan Badan‐badan lin yang terkait.
12. Forum Eksekutif ITS telah membentuk Task Force sebagai kelanjutan Sidang ini dengan Ketua Ir.
Pudjojoko dan Ir. Abdul Aziez Bahalwan sebagai Wakil Ketua. Anggota‐anggota Task orce adalah
para Eksekutif terkait.
Task‐Force juga menjajagi dilaksanakannya “Forum Investasi Madura” yang dilaksanakan di
Jakarta, dan melibatkan 4 Kabupaten di Madura.
Penutup
Forum Eksekutif ITS akan menindaklanjuti hasil sidang ini melalui Task Force yang telah terbentuk.






